![]() |
| Ilustrasi keluarga |
Hidupku hanyalah sebuah titipan yang di anugerahkan oleh sang kuasa. Pagi ini suara ayam menjadi melodi yang berarti. Ia setia membangunkan aku saat aku tidak siaga menghadapi hari esok.
Hidupku bagaikan Kiasan cahaya dari orang tuaku. Waktu itu, saat aku lahir kedua insan yang menantikan kehadiranku masih lengkap dan aku merasa hidupku sempurna bersama insan yang di takdirkan Tuhan untuk menjadi pemantau di setiap garis hidupku.
18 tahun lamanya ayahku berjuang demi menghidupi kami sekeluarga. Dari pagi hingga malam keringat dicucuran demi sesuap nasi.
Hidup yang kami jalani begitu keras dan tak biasa. Namun jika di renungkan mungkin garis Tuhan yang mengharuskan kami menjalaninya seperti ini. Begitulah kiraanku.
Pedihnya, saat ayahku hanya tinggal kenangan yang aku lakukan kini merenung sendiri dalam kamar. Dalam hati aku berucap
"Terima kasih Tuhan Karena engkau pernah menghadirkan sosok pahlawan luar biasa yang aku temui dalam hidupku. Tapi aku sedih, saat engkau menitipkannya, lalu menorehkan kenangan yang indah yang paling aku abadikan, namun aku merasa saat ini engkau benar-benar tak adil mengabilnya kembali dan meninggalkan kenangan indah kami. Sejujurnya bukan itu yang aku inginkan".
Waktu itu aku baru menyadari bahwa ayahku bukanlah milikiku, tetapi milik Tuhan, yang dititipkan sementara lalu mengambilnya kembali.
Ayahku pergi bukalah tanpa alasan tetapi karena Tuhan lebih menyayanginya dan dia lebih mencintai Tuhannya,,maka dia mengikuti Tuhan nya.
Sejak kepergiannya keluargaku lebih berantakan, entah Karena nakoda nya menghilang dan Ibuku terpaksa manjadi nakoda dalam keluarga ku demi membangun keluarga kami
Kakakku yang menjadi panutan keluarga yang menggantikan ayahku, yang mengurusi keluarga bersama ibuku yang sudah berusia.
Sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku hanyalah manusia bodoh yang hadir dalam keluarga kami.
Meskipun orang bilang kesuksesan keluarga itu di lihat dari sukses nya anak bungsu, dan cerminan keluarga adalah anak bungsu, ketika anak bungsu gagal semua dalam keluarga menjadi gagal karena tidak bisa mendidik satu orang.
Aku Perlahan mulai memahami akan segala permasalahan yang terjadi, dan aku berfikir ketika aku tidak bisa menjadi cerminan keluarga ku maka aku hanyalah orang bodoh yang tak berpunya pikiran dan perasaan
Yang rela menyakitkan keluarga ku sendiri.
Tuhan memalukan kita, bukanlah hal yang buruk. supaya kita kuat ketika di anggap sampah oleh manusia yang tak punya perasaan.
Orang tuaku adalah Tuhan ku, karena mereka orang yang pertama kali ada di sisiku ketika aku jatuh di jurang sekali pun.
Aku yakin bahwa kegagalan atau masalah Hanyalah angin yang berlitas, yang datang sesaat lalu menghilang, wahai jiwa kembalilah menguat ragaku, supaya aku bisa melewati masalah ini.
Malang, 16 September 2021
Catatan si bolot












