Senin, 24 Juli 2023

Laporan Indepth Reporting Dibalik Meningkatnya Kasus Bunuh Diri Di Kota Malang

Proses wawancara dengan Narasumber Marialisasi, M.Psi, Psikolog. seorang Psikolog  Yayasan Kesembuhan Pembinaan Bathin (16/06/2023)


Bunuh diri sebuah tindakan agresif yang dilakukan dengan sengaja, melukai diri sendiri, merusak diri hingga mengakhiri hidupnya. Aksi bunuh diri yang dilakukan tidak melihat status, pendidikan, ekonomi, sosial ataupun usia. Baik dari remaja, dewasa hingga bahkan tingkat mahasiswa aksi ini bisa saja dilakukan oleh siapapun yang sudah tidak bisa menyelesaikan permasalan, persoalan hidup. Berdasarkan data riset dan penelitian yang diteliti secara nasional, angka kasus dan tindakkan bunuh diri di Indonesia yang diteliti Kania Febrya Putrid dan Duma Lumban Tobing Universitas Pembangunan Nasional.

 “Veteran” Jakarta Jl,, Limo Raya kelurahan limo, Kecamatan Limo Kota Depok, Kode Pos 16515. Dalam penelitian “Tingkat Resiliensi dengan Ide Bunuh Diri Pada Remaja”

 disebabkan perdapat temuan menarik dalam penelitian tersebut di antaranya ide bunuh berisiko tidak hanya ditemukan pada remaja dengan tingkat resiliensi rendah saja, tetapi ide bunuh diri berisiko juga ditemukan pada remaja dengan tingkat resiliensi sedang. Melalui peningkatan faktor protektif dan penurunan faktor risiko, dapat meningkatkan resiliensi pada remaja. Sehingga remaja menjadi mudah beradaptasi terhadap segala perubahan yang terjadi dan diharapkan dapat menurunkan timbulnya ide bunuh diri.

 Sementara itu, ada kolerasi dengan data menurut World Health Organization (WHO) menetapkan bunuh diri sebagai fenomena global di seluruh wilayah di dunia penyebab kematian terbanyak kedua di tahun 2016 dengan rentang usia 15-26 tahun. 

Banyaknya perubahan yang terjadi pada masa remaja, seperti fisik, hormonal, sosial, dan psikososial, sering kali memicu ketidakstabilan emosi pada remaja yang berujung pada timbulnya ide bunuh diri hal merupakan alasan utama yang lakukan oleh korban. Sedangkan laporan kasus bunuh diri di kota Malang mengalami peningkatan dilansir dari data (riset).

 Kota malang dikenal sebagai kota pendidikan, dimana mahasiswa yang menempuh perkuliahan di salah satu kota Jawa Timur, tersebar merata hampir dari seluruh pelosok wilayah Indonesia (datanya). Seorang psikologi Marialisasi, M.Psi, Psikolog yang bekerja di Yayasan Pembinaan dan Kesembuhan Bathin, menyampaikan aksi bunuh diri yang dilakukan dikatakan oleh Marialisai, bukanlah sebuah tindakkan dosa. 

Ia mengatakan bahwa permasalahan bunuh diri yang dilakukan oleh pelaku sebuah tindakkaan yang tidak dapat dikatakan dengan mutlak sebuah kesalahan ataupun menutup aib. Namun aksi bunuh diri ini, ia menyebutkan sebuah “kemungkinan” bisa jadi hanya itu satu satunya solusi dalam menyelesaikan masalah dan memenuhi kepuasannya.

 Dilansir (berita) aksi bunuh diri yang dilakukan mahasiswa yang terjadi dikota Malang disebabkan oleh berbagai macam kemungkinan faktor. Hasil wawancara yang dilakukan pada 16 juni 2023 dengan seorang Psikolog Marialisasi, Ia memaparkan kasus bunuh diri mahasiswa bisa saja disebabkan adanya faktor, mental yang dimiliki seseorang fondasinya kurang kuat.

 Hal ini dipengaruhi latar belakang pola asuh dari orangtua, dimana anak sekarang dididik tanpa menggunakan kekerasan. Sehingga pola asuh yang diberikan orangtua tidak boleh terlalu keras, hal karena sudah diatur dalam undang undang tentang perlindungan kekerasan pada anak. 

“kamu tidak boleh keras kepada anak, kalau kita mukul dan menegur keras kita bisa kena undang undang” ujarnya dengan nada serius. 

Pendidikan yang tidak keras yang diberikan pada anak anak akan mempengaruhi tumbuh karakter yang keras. Anak akan tumbuh menjadi anak yang kurang tangguh dalam menghadapi situasi dan masalah saat ia akan memasuki masa remaja atau dewasa.

 Sehingga didalam karakter dibentuk akan kurang fondasi, mulai dari pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari didikkan orangtua pada masa kanak-kanak atau remaja. Secara otomatis akan mempengaruhi psikolgis dikala menemukan situasi tidak sesuai yang diinginkan. 

“anak anak itu akan tumbuh menjadi kurang tangguh, otomatis keyoka persoalan terjadi, walaupun masalah biasa, namun bisa menganggap sebuah masalah yang berat” tutur Psikolog ini dengan detail yang disertai dengan ekspresi turut perihatin. 

Ia memberikan contoh tentang masalah yang dialami oleh seorang klien. Sebuah kasus seorang ibu yang tidak menyukai hobi anaknya yang berusia remaja. Anak ini merasa bahwa ibunya tidak mencintainya, karena hal itu ia kemudian menyakiti dirinya sendiri hingga mencoba melakukan tindakan mengakhiri hidup, yang mencoba bunuh diri. 

Namun aksinya diketahui ibunya dan percobaan itu akhirnya tidak terjadi. Tidak hanya itu, kasus bunuh diri bisa berangkat dari ketidakpuasan dengan pencapaian, keinginan dari dalam diri, ketidakpuasan dengan lingkungan sosial, keluarga, kehidupan pertemanan, pacaran dan aspek lainnya.

 “Jadi gini remaja itu kan kadang memiliki ke inginan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada. Contohnya, aku ingin tinggal satu kos sama pacarku kan kalau sesuai norma-norma timur nggak bisa dong nah, bagi mereka itu orang tuanya nggak ngerti dialah dan akhirnya terjadi konflik. Nah orang tua untuk keselahan-kesalahan yang tidak fatal orang tua masih bisa toleransi” jelasnya. 

 Melanggar norma yang berlaku sebuah tindakan yang sengaja ingin dilakukan untuk mencapai kebahagiaan yang salah, sehingga ketika lingkungan menolak hal itu, seorang remaja seringkali berasumsi bahwa reaksi dari oranglain itu menghakimi mereka. 

“Nah, karena anak ini tidak bisa di kerasi maka ketegasan orang tua di anggap sebagai bentuk dari mode ke tidak sukaan atau bentuk rasa tidak sayang nah,itu yang membuat mereka akhirnya berfikir bahwa tidak ada jalan keluar lain” ujarnya dengan saksama. 

Beberapa diantaranya tingginya ekspetasi yang ditanamkan dalam diri, selain itu juga lingkungan yang kurang memberikan rasa nyaman dan aman, sehingga seorang merasa tidak diterima kemudian memutuskan diri berhubungan dengan lingkungan luar.

 Tidak punya tempat berbagi cerita dan berkeluh kesah akan mempengaruhi seorang pribadi merasa dirinya hidup sendiri, kesulitan untuk bergaul membangun relasi dalam pertemanan apabila seorang remaja.

 Marialisasi juga menyampaikan bahwa bullying salah satu faktor seorang bertindak mengakhiri hidup atau bunuh diri. Karena sekarang marak yang namanya buli jadi misalnya kita curhat ke orang lain bukannya mendapatkan solusi malah mendapatkan pembulian 

“jadi mereka merasa aku mesti harus kemana” ungkapnya. Pada umumnya anak-anak remaja ini mengelami kesulitan, punya pandangan Pikologi itu mahal. Ketika punya masalah yang berhubungan dengan depresi, stress, gelisah dan sebagainya, ia menyarankan untuk berkunjung ke Psikolog. Namun kadang kadang sebagian besar orang mengukur masalah itu dengan uang. “kalau saya pergi ke tenaga ahli saya nggak punya duit. Saya tahu itu karena rata-rata mereka akan mengatakan itu di dalam chat sebelum bertemu dengan saya. Jadi, mereka sering mikir kalau saya ke sikolog saya harus punya uang untuk bayar” ujarnya. 

Mencari pertolongan ke tenaga ahli juga mereka malu untuk menceritakan kalau ke teman nanti aku di buli sehingga akhirnya mereka memendam semuanya sendiri dan bertumbuh-bertumbuh pada akhirnya jatuhlah dan mengatakan untuk apa aku hidup di dunia ini. Pernyataan kayak seperti itu berarti sudah mulai munculnya gejala tanda-tanda depresi. Karena memang pikiran untuk bunuh diri itu adalah gejala dari depresi berat. Jadi kalau depresi itu muncul kalau sudah merasa diri kita merasa perasaan sedih yang berlebihan,merasa diri kita tidak berharga dan tidak memiliki kesenangan ini sudah mulai mengarah pada depresi. Ia menyarankan Pola asu orang tua jelas fondasi penting seorang yang di besarkan dengan tanggung jawab. 

Sehingga seorang yang di besarkan dengan cara di hargai mereka lebih kecil kemungkinanannya untuk melakukan bunuh diri. Jadi Intinya adalah kamu punya tempat untuk menceritakan apa yang ada di dalam hati mu itu bisa memanilisir. Untuk mengantisipasi supaya tidak melakukan bunuh diri jangan sendiri, kalau misalnya ada persoalan coba berbicaralah dengan orang lain bisa dipercaya dan dewasa. 

Dilansir dari penelitian Angelica Budi Septiani dalam penelitian “Pola Asuh Orang Tua Berhubungan Dengan Tingkat Depresi Pada Remaja: Literature Review”. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi depresi adalah pola asuh orang tua.Pola asuh yang diberikan orang tua sangat berperan penting untuk remaja. Orang tua yang memberikan pola asuh yang tepat dapat menurunkan resiko depresi pada remaja. 




Berdasarkan data yang terdapat dalam penelitian ini adalah Data yang didapatkan di Amerika pada tahun 2010 ditemukan 18 juta penduduk yang mengalami depresi, dan 20% nya dialami oleh remaja. Menurut WHO depresi akan menjadi penyakit dengan beban global kedua terbesar di dunia setelah penyakit jantung iskemik pada tahun 2020. Prevalensi gangguan mental emosional seperti depresi, cemas, dan stres di DIY sendiri sebesar 9,7% pada umur 15 tahun keatas (Riskesdas, 2018). Prevalensi nasional gangguan emosional pada penduduk berusia 15 tahun ke atas meningkat 6% pada tahun 2013 menjadi 9,8% di tahun 2018 (Kemenkes RI, 2018). Depresi berat yang dialami remaja akan membuat kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri (self harm) sampai bunuh diri.

 “Kalau kita mencegah orang lain nah, kita lihat ada orang-orang yang sebelum mereka bunuh diri itu mereka sempat mencetuskan ide-ide jadi kalau ada orang yang mengatakan lebih baik aku mati aja, itu kita jangan anggap candaan apa lagi kalau kita bilang ya udah mati aja suda, sekarang aja, nggak usah tunda-tunda” ujar Marialisasi dengan nada serius. 

 Tindakan mencegah bunuh diri ia menyarankan untuk menjadi seorang pendengar yang baik, dengan menjadi pendengar bisa menyelamatkan nyawa oranglain. Berhati hati dalam menyampaikan solusi untuk tidak membuat menyinggung.

 “menahan diri kita dan berusaha untuk melihat dari kaca mata dia . Karena nggak mungkin dia akhirnya mengambil keputusan mau mengakhiri hidupnya kalau memang itu tidak berat bagi dan apa yang kita anggap ringan belum tentu berat bagi orang lain” tutupnya. 

Apabila sudah masuk tingkat depresi yang tidak ringan jangan malu berkonsultasi dengan bidang ahli, Psikolog. Bullying Penyebab Insecure Apriani Nency Kale, seorang mahasiswi akuntansi semester 6 asal Sumba Timur kota Waingapu mengalami tindakan pembulian fisik atau body shaming sejak di pendidikan sekolah dasar.
Wawancara dengan seorang korban Bullying Apriani Nency Kale (Waingapu, Sumba Timur). Korban mendapatkan perlakuan Bullying body shaming sejak masa kecil yang menyebabkan insecure terbawa hingga dewasa.


 Postur tubuh yang kecil pendek bisa dikategorikan stanting, mendapatkan pembulian hingga menyebabkan dirinya menjadi inscure tertutup untuk berhubungan dengan dunia luar. Rasa insecure itu masih terbawa hingga ia merantau di pulau jawa. Mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan sejak masa kecil mempengaruhi pergaulan hingga di masa perkuliahan. Menjadi pribadi yang tertutup solusi yang paling ampuh untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman, namun lingkungan yang sengaja ia tutupi itu mengorbankan keinginan dan hobinya untuk mendapatkan relasi dengan bebas diluar.

 Pembulian ini terjadi mulai dari SD,SMP hingga SMK, pembulian yang di lakukan yaitu pembulian fisik dan para teman-temannya menghindari dari dirinya di karenakan fisiknya yang pendek. Adapun ungkapnya 

“dulu saya pernah di buli parah pada kelas 3 SD ada teman SD yang membuli saya dan mengajak teman-teman lainnya untuk membuli saya dan mengatakan kamu itu kecil”. 

Ceritanya. Korban ini menceritakan sejak masuk sekolah Dasar ia tidak memiliki relasi dalam berteman, ia tidak merasa nikmatnya pada masa kanak kanak justru mendapatkan pengalaman yang menyakitkan. 

Mirisnya pengalaman yang dialami korban ini tidak diketahui oleh orangtuanya. Bahkan hingga usia dewasa sekarang Apri tidak pernah memberitahukan kepada orangtua atas pembulian yang dialami. Ia memendam semuanya sendiri dengan alasan ia tidak ingin orangtuanya punya masalah, tidak ingin menyakiti perasaan orangutan, tidak ingin orangtuanya merasakan sakit seperti yang dialaminya, serta orangtuanya tidak mendengar keluh kesahnya.

 “palingan kalau cerita sama keluarga, tidak dengar nanti dibilangnya, halah anak kecil jangan dengerin” asumsi Apri. 

Ia menceritakan pengalaman dirinya pernah melakukan kekerasan dengan seorang pelaku yang membulinya. Saat ia dapat buli dan kondisi memungkinkan, korban pembulian ini tidak menerima perkataannya melainkan korban pembulian ini memukul teman yang telah membulinya.

 Korban ini sering di buli oleh teman sekolahnya, tetapi bukan hanya teman sekolahnya saja yang sering membuli dia. Dia juga di buli oleh teman-temann dia yang berada di sekitar rumahnya, beserta orang tua dari teman-temannya itu juga ikut membuli mengenai fisiknya. Pembulian ini berupa pembulian fisik yang melontar kan kata-kata yang menyingung perasaannya. Ia mengakui bahwa setiap hari para tetangganya sering membulinya baik anak mereka maupun orang tua dari teman-temannya itu . 

 Adapun ungkapan darinya “saya juga sering di buli sama orang dewasa dengan melontarkan kata-kata yang menyakitkan bagi saya, pada awalnya saya merasa tersakiti dengan perkataan mereka,,seiring setiap harinya saya mendengar kata-kata pembulian dari orang lain. Mengenai saya, hal itu sudah biasa bagi saya dan saya tidak merasa tersakiti dengan perkataan dari orang-orang itu” Pada masuk SMP pembulian ini juga masih ada, sama seperti masa SD pembulian mengenai hal fisik, teman-teman SMP nya juga membulinya tentang fisiKnya. Mereka membulinya dengan melontarkan kata-kata. 

Adapun ungkapnya” pada awal masuk SMP saya pikir teman-teman saya tidak membuli saya ,tetapi mereka tetap membuli saya pada bangu SMP”. Korban pembulian ini mengatakan pada zaman SMP banyak yang membulinya. Seiring dia mendengar Bahasa yang di keluarkan dari teman-temanya dia menggangap perkataan itu hal biasa baginya. Selama pembulian itu terjadi koban tidak pernah menceritakan kepada orang lain termasuk orangtuannya tentang pembulian yang tejadi terhadap dirinya. Setelah lulus dari SMP, korban pembulian ini melanjutkan studinya di SMK di kota, si korban merasa pada masa SMK pembulian terhadapnya ini berkurang. Pada masa SMK si korban ini memiliki banyak teman dan temannya ini tidak membandingkan diri mereka terhadap diri dirinya. 

Adapun ungkapannya “ pembulian ini berkurang pada awal saya masuk SMK, mungkin saya SMK nya di kota jadi,disana pembulian ini berkurang. Pada masa itu Saya merasa bersyukur punya teman_ teman yang tidak membuli fisik saya” Setelah lulus dari SMK si korban melanjutkan berkuliah UNITRI dan mengambil jurusan akuntansi, pada masa kuliah dia tidak pernah di buli sama teman-temanya di kampus, melainkan si korban ini memiliki banyak teman. Namun rasa insecure masih terbawa hingga sekarang, hingga ahirnya ia masih takut dan ragu untuk berhubungan dengan oranglain, termasuk dengan temannya sendiri ia masih tidak percaya seratus persen dalam perteman hingga percintaan. Namun korban merasa senang karena dia di kelilingi sama teman-temanya yang tidak membulinya.

 “selama saya berkuliah di malang kampus UNITRI saya tidak pernah di buli sama teman-teman saya, malahan saya memiliki banyak teman yang berasal dar daerah lain. Saya bersyukur sekali karena saya di keliling dengan orang-orang baik. Tapi perasaan takut itu masih ada” ucapnya dengan nada rendah. 

Pulang kampung halaman masih menyimpan trauma bagi Apri, karena ia merasa melihat pelaku yang pernah dahulu membuli dirinya masih tersimpan dengan jelas di kepalanya. Sehingga ia merasa saat dirinya akan pulang ia sudah membayangkan tatapan aneh dari orang sekitar tempat ia tinggal. “dibayangkan saja seperti buka luka lama, dan itu tidak enak” ujarnya dengan sedikit sinis.

 Ia mencoba untuk mencintai dirinya sendiri, menerima fisik yang dimiliki sebagai anugerah dari Tuhan, namun insecure itu masih ada, sudah melekat dalam diri Apri. Ketakutan tidak diterima dimasyarakat, meskipun diterima di beberapa lingkungan perteman kuliah, dirinya tetap merasa ada banyak tatapan aneh mengarah padanya. Dan itu masih tetap melekat dalam pikiran Apri.

Nama kelompok 
1. Yovina Selin 
    Nim: 2020230082 
2.Yunetsi Mora Henggi 
    Nim: 2020230061
3. Lusia Enda 
    Nim: 2019230094
4. Ferdinandus Wily Daru 
    Nim: 2020230009

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Definition List

Unordered List

Support