Sekian hari berlalu hubungan kita berjalan dengan lancar, kita
mengisi hari-hari dengan senyuman dan candaan. Ya, aku nyaman dengan itu.
Namun
kau memberikan aku satu pilihan dan harus mengorbankan salah satunya. Aku
memilih dia yang selalu membuat ku nyaman meskipun sikapnya mudah berubah
tergantung moodnya.
Dan Aku rela mengorbankan kehilangan teman-teman yang dari
awal masuk ke kampus demi dia yang baru datang dan membuat ku nyaman.
Tak ku
duga hari itu dia mengambil keputusan sebelah pihak, dan dia menginginkan
hubungan kami tidak bisa di lanjutkan, entah apa penyebabnya.
Mungkin inilah
saatnya kita akan berpisah dan mungkin inilah cara yang terbaik, yang kau
inginkan, maafkan aku jika aku tidak sempat menjadi yang terbaik sesuai versi
mu, maafkan aku jika aku menyakitimu saat bersamamu, maafkan aku jika aku sudah
salah mencintaimu, dan maafkan aku karena aku pernah menjadi pengganggu dalam
hidupmu.
Mungkin selama ini, entah aku yang menganggap bahwa hubungan kita lebih
dari sekedar teman karena kita telah menyepakati bersama, atau mungkin aku yang
berhalusinasi dan memanipulasi jawabanmu. Tetapi mengapa engkau merasa nyaman
dan seakan-akan tak mau melepaskan ku untuk pergi dengan caramu yang selalu
memberikan harapan buat aku.
Meskipun rasa kecewa yang mendalam pada diri ku dan
mau menyesal atas kejadian waktu itu, tetapi aku tidak bisa memutar kembali
waktu untuk membatalkan pilihan ku waktu itu.
Meskipun mengiklaskannya untuk
perki ada rasa penyesalan yang terjadi, namun apalah arti perjuangan jika hanya
di perjuangkan sebelah pihak.
Jika kita sdh tak punya hubungan lagi aku mohon
jangan blok nomor ku, biar aku masih bisa memastikan bahwa engkau baik-baik
saja. Dan jika engkau sakit jangan sungkan untuk mengabari ku. Biar aku bisa
berada di sampingmu, meskipun itu terasa berat karena situasinya tidak seperti
sebelumnya.
Malang, 12 Desember 2022







Hufff
BalasHapus